Matahari yang sama.

Sore ini sekelarnya kerjaan, gw cabut ke pantai yg jadi ikon kota Makassar. Pantai Losari. Gw kesana sendirian, ditemenin abang becak sih sebenernya. Belum sampe ke tulisan pantai losarinya gw udah diturunin. Soalnya duit gw kurang. Gak deng, gw pengen jalan kaki nyusurin pantai.
Pantai Losari itu bukan tipe pantai berpasir putih nan landai, bukan. Losari itu pantai berpasir hitam, yang tidak landai, dan lebih banyak batu daripada pasirnya. Tapi lebihnya adalah, ada anjungan dg tulisan pantai losari dan ada sunset viewnya.
Tujuan gw ke losari emg bwt ngeliat sunset. Sendirian. Iya sendirian. Emg sengaja sih mau galau-galauan. Hahaha.
Sampe ke anjunganya gw celingak celinguk sebentar nyari spot enak duduk, terus mulai ndelesor sendirian. Merhatiin lajunya matahari.
Sunset itu indah, gw suka sunset. Pas sunset adalah saat paling tepat untuk ngeliat matahari. Selain saat sunset dan sunrise, sinar matahari itu gk cocok bwt mata gw yg over sensitif sama cahaya. Tapi di saat sunset dan sunrise gw bisa mandangin matahari dg leluasa. Gw ga pernah berhasil liat sunrise soalnya susah bangun pagi.
Tiba tiba pas lagi ngeliat sunset sendirian gw pengen nulis kata-kata ini.
image

Matahari itu, matahari yang sama dengan saat terakhir kita melihatnya, yang berbeda hanya, saat ini aku sendiri. Tidak ada kamu.
Gw duduk disana sampe matahari tenggelam sempurna, menunggu seseorang yang tidak layak untuk ditunggu, menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang. Dan memang tidak datang.
Lalu gw pulang, bertemankan sendiri.

Ps: itu fotonya, taken with my lovely smart phone 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s